Skip to main content

Aksi Jalan Kaki Demi Menemukan Sang Suami di Cina

Istri dari Pengacara HAM yang Dihilangkan Paksa Dilecehkan

Li Wenzu, istri dari pengacara Wang Quanzhang, yang ditahan di tempat yang dikenal sebagai pemberangusan “709”, bergabung dengan sejumlah pengunjuk rasa di depan Kejaksaan Agung Rakyat di Beijing, Cina 7 Juli 2017.  © 2017 Reuters
Li Wenzu berteriak dari balkon rumahnya di Beijing kepada orang-orang yang menontonnya, di mana pada Rabu lalu ia dikenai hukuman tahanan rumah dalam waktu singkat bersama dengan putranya yang berusia 5 tahun: “Suami saya adalah seorang pengacara. Di masa normal, ia membantu orang biasa pergi ke pengadilan. Sekarang [suami saya] telah ditahan selama lebih dari 1.000 hari. [Saya] tak tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati. Saya pergi mencari suami saya - apakah yang saya lakukan itu salah?”

 

Pada Agustus 2015, kepolisian Beijing menahan suami Li Wenzu, pengacara Hak Asasi Manusia bernama Wang Quanzhang, di tengah tindakan keras secara nasional terhadap pengacara hak asasi manusia dan para aktivis. Wang, yang kemudian didakwa tanpa dasar untuk “subversi kekuasaan negara,” belum terdengar kabarnya sejak saat itu. Ketakutan akan kondisi kesehatannya semakin mendalam setelah ia dilaporkan disiksa dengan cara disetrum listrik.

Pada 4 April, pada hari ke 999 penghilangan paksa Wang, Li melakukan aksi jalan kaki sejauh 100 kilometer dari Beijing menuju kota pelabuhan di timur laut Tianjin, tempat di mana Li yakin suaminya sedang ditahan. Tetapi pihak berwenang mencegat Li dan memulangkannya ke Beijing. Puluhan orang tak dikenal memblokir dan bahkan memukuli teman-teman yang coba mengunjunginya.

Pengalaman Li mengingatkan pada Liu Xia, janda dari tokoh pembangkang Liu Xiaobo. Sejak suaminya dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada Oktober 2010, Liu Xia secara sewenang-wenang dihukum menjalani penahanan rumah yang sewenang-wenang. Karena komunikasinya dengan dunia luar diputus, Liu Xia menderita depresi berat dalam isolasi. Bahkan setelah kematian suaminya pada Juli 2017, Liu Xia tetap menjadi tahanan rumah.

Li telah mengalami berkali-kali intimidasi dan pelecehan yang tak terhitung jumlahnya saat berjuang mendapatkan keadilan bagi suaminya. Namun ia dan keluarga-keluarga lain dari para pengacara dan aktivis yang ditahan selama pemberangusan telah terbukti sebagai aktivis yang ulet. Seringkali sambil mengenakan kemeja dengan nama atau gambar Wang, Li rutin mengunjungi pengadilan untuk mengajukan laporan orang hilang dan melakukan perjalanan ke pusat penahanan, menuntut untuk menemui suaminya. Klip video dirinya yang tanpa takut berdebat dengan petugas polisi dan agen keamanan telah diunggah ke Twitter dan disebarluaskan oleh para pendukungnya.

Setelah satu hari “dikepung” - kata-kata Li sendiri - ia dan putranya diizinkan untuk meninggalkan rumah mereka. Tekad Li untuk menemukan keadilan bagi suaminya sepertinya tidak akan berkurang akibat pengalaman ini, dan pihak berwenang akan bersikap bijaksana untuk melakukan hal benar dan membebaskan Wang.

Your tax deductible gift can help stop human rights violations and save lives around the world.

Region / Country

Topic