Asap timbul dari Hotel Intercontinental ketika serangan berlangsung di Kabul, Afghanistan, 21 Januari 2018. 

© 2018 Reuters
Serangan yang mengguncang Hotel Intercontinental akhir pekan ini hanyalah serangan terbaru dari rangkaian panjang insiden yang menyasar warga sipil di Afghanistan. Mereka yang memerintahkan atau melakukan pelanggaran serius terhadap hukum perang ini telah melakukan kejahatan perang.

Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang berlangsung selama berjam-jam di hotel tersebut, di mana pelaku bersenjata membunuh setidaknya tujuh warga negara Afghanistan dan 11 warga negara asing. Sebagian besar korban ditembak mati di kamar mereka atau di ruang makan hotel. Para pelaku, yang dilaporkan masuk dari dapur, menjalankan aksi mereka melalui lantai-lantai hotel, mendobrak pintu kamar para tamu hotel dan menembaki siapa pun yang ada di dalam, atau melemparkan bom granat. Beberapa orang terluka atau terbunuh saat lompat dari jendela untuk melarikan diri. Jumlah korban jiwa kemungkinan bertambah dikarenakan beberapa tamu hotel masih dilaporkan hilang, sementara api telah menghanguskan sebagian gedung hotel.

Jumlah serangan yang merugikan warga sipil di Afghanistan meningkat pesat dalam setahun terakhir. Laporan terakhir oleh Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan mencatat bahwa pada paruh pertama 2017, angka kematian dan luka-luka pada warga sipil dari serangan bunuh diri dan serangan kompleks tercatat paling tinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Serangan yang terjadi di Hotel Intercontinental merupakan peringatan suram dan tak perlu akan meningkatnya frekuensi pembantaian yang dengan sengaja dilakukan oleh para pelaku perang terhadap warga sipil, yang jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum internasional.