Orang-orang berkumpul untuk Women's March (pawai perempuan) di Washington A.S., 21 Januari 2017. 

© 2017 Reuters

Serangan balasan terhadap #MeToo makin menguat, dengan bermunculannya paduan suara yang menyuarakan kekhawatiran tentang “reaksi berlebihan” terhadap pelanggaran “kecil” dan menyebutnya ancaman terhadap kebebasan seksual.

Gerakan #MeToo telah menimbulkan sebuah tsunami diskusi dan kesadaran tentang pelanggaran dan pelecehan seksual di tempat kerja yang sistemis, yang dibangun selama beberapa dekade aktivisme oleh gerakan feminis dan buruh.

Serangan balasan bertumpu pada dua klaim: Pertama, orang-orang baik mungkin tak layak dihukum karena perilaku mereka karena keadilan dan proses hukum secara terburu-buru dikesampingkan untuk muncul di “sisi yang tepat” dari pelecehan seksual. Kedua, hal ini menghapus semua “kesenangan” dari interaksi laki-laki dan perempuan.

Menurut saya semua klaim ini salah.

Momok bahwa banyak lelaki tak bersalah yang dituduh melakukan pelecehan seksual ringan, kehilangan pekerjaan mereka, dan dicap sebagai pemangsa seksual sangat tidak mungkin terjadi. Dan itu menutupi pesan mendasar bahwa perempuan faktanya semestinya tahan bila pantatnya dicubit, menanggung komentar yang menyinggung perasaan, dan bahkan melakukan seks yang tidak diinginkan, semua untuk menghindari menyakiti orang lain. Gagasan ini bergantung pada stereotip jahat: bahwa perempuan berbohong tentang hubungan seks suka sama suka sehingga seringkali masyarakat harus menemukan cara untuk memastikan bahwa para laki-laki tak bersalah dilindungi dengan benar.

Misalnya, banyak negara, termasuk negara asal saya Afrika Selatan, sampai baru-baru ini memiliki beberapa versi aturan kehati-hatian. Hal ini mengharuskan hakim untuk menerapkan pendekatan hati-hati terhadap bukti beberapa saksi tertentu atas dasar bahwa pernyataan tersebut pada dasarnya tidak dapat dipercaya dan sepantasnya tidak dipercaya tanpa pembuktian. Aturan itu paling sering digunakan terhadap korban pemerkosaan, sebuah kejahatan yang secara tidak proporsional mempengaruhi perempuan, dilakukan secara tidak proporsional oleh laki-laki, dan kebanyakan terjadi tanpa saksi. Merongrong kredibilitas perempuan turut memicu rendahnya tingkat penuntutan dan vonis dalam kasus pemerkosaan di seluruh dunia.

Meski sulit untuk mengukur tingkat laporan palsu terhadap setiap kejahatan, penelitian di Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, dan Kanada menempatkan laporan palsu pemerkosaan sekitar delapan persen. Penelitian Human Rights Watch menemukan bahwa stigma seputar kekerasan seksual menciptakan keengganan yang kuat untuk melaporkan, membenarkan penelitian lain yang menunjukkan bahwa pemerkosaan adalah kejahatan yang paling tidak dilaporkan. Penelitian kami di banyak negara menunjukkan bagaimana keraguan terhadap korban kekerasan seksual, termasuk pelecehan seksual di tempat kerja, telah menyebabkan laporan mereka diabaikan, dihentikan, atau tidak diselidiki.

Momen #MeToo adalah tanggapan langsung terhadap sistem yang telah menghukum korban, bukan pelaku, untuk maju. Jawaban atas kekhawatiran tentang hukuman yang adil dan sepadan, bagaimanapun, bukanlah untuk mendiskreditkan korban atau melemahkan pengaduan mereka soal ceramah yang menyinggung, sentuhan tak sepantasnya, dan pelecehan; Malahan ini untuk memastikan bahwa kita memiliki proses yang adil dalam menilai tuduhan dan tanggapan. Ini berarti bahwa tempat kerja harus menerapkan prosedur yang adil dan transparan untuk menerima, menyelidiki, dan menanggapi dugaan pelecehan seksual.

Argumen kedua sangat menyebalkan karena, sekali lagi, ini bergantung pada stereotip perempuan (terutama feminis) karena tidak mampu menerima lelucon atau membedakan antara laki-laki yang secara sembrono salah menilai dan pelaku predator/serial – yang kita tidak suka bersikap santai, seks tanpa ikatan, godaan yang tak berbahaya, atau sedikit “kesenangan” dengan mesin fotokopi.

Tapi gerakan #MeToo bukan tentang seks. Ini tentang sistem tersirat soal kekuasaan di tempat kerja: siapa yang memilikinya, siapa yang melakukannya, dan siapa yang menderita karena tidak punya kekuasaan. Ini tentang menunjukkan bagaimana ketidakseimbangan kekuatan ini mendorong perempuan keluar dari tempat kerja, merongrong kemajuan karir mereka, dan mencegah mereka bersaing secara setara untuk mendapatkan pekerjaan, promosi dan pelatihan. Laki-laki tidak punya hak yang melekat untuk bermain mata, mencium, atau menyentuh rekan kerja mereka. Perempuan (dan saya asumsikan, banyak laki-laki) secara umum tidak pergi bekerja untuk melakukan foreplay seksual, dan mereka pasti tidak ingin dilecehkan, diancam, atau menjadi korban.

Untungnya, gerakan #MeToo dan media sosial telah memberikan sorotan keras pada pelecehan seksual serupa yang meluas dan menyedihkan di banyak sektor, dan mereka juga membantu menciptakan ruang bagi perempuan untuk menentukan bagaimana dan kapan hubungan seksual bisa terjadi.