Para perempuan berbaris di sebuah asrama di tahanan imigrasi Adelanto, yang dikelola oleh Geo Group Inc (GEO.N), di Adelanto, California, AS, 13 April 2017. 

© 2017 Reuters

Gerakan #MeToo telah sampai di Hollywood, pers, restoran, Gedung Putih, dan bahkan industri perjudian. Tapi bisakah itu membawa perubahan bagi para korban kekerasan seksual  di tahanan imigrasi?

Laura Monterrosa adalah seorang lesbian pencari suaka dari El Salvador yang ditahan di Pusat Tahanan Hutto yang dikelola oleh swasta di Texas. Tahun lalu, kepada pihak berwenang ia mengaku diserang secara seksual berulang kali oleh seorang perempuan penjaga. Ketika Laura mengatakan akan melaporkannya, penjaga tersebut diduga mengatakan, ”Menurutmu, mereka akan percaya padamu atau pada saya?” Pada bulan Desember, FBI memulai penyelidikan hak-hak sipil untuk menyelidiki kasus ini.

Sementara itu, kata para pengacara lokal Laura menghadapi ancaman hukuman karena tampil di depan publik. Menurut mereka, Laura mengatakan bahwa para petugas tahanan mengancam akan menahannya dalam kurungan isolasi kecuali jika ia mencabut tuduhannya – sebuah prospek mengerikan bagi seseorang seperti Laura yang, kata para pengacara, telah berusaha bunuh diri di dalam tahanan.

Semua alasan #MeToo sebagai gerakan untuk meningkatkan kesadaran sangat dibutuhkan di tempat lain tak terkecuali di jaringan penjara besar, yang menampung lebih dari 40.000 orang bukan warga negara, termasuk Laura, kapanpun itu.

Sistem tahanan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) hampir tidak transparan, namun banyak pelanggaran yang dilakukan ICE sudah menjadi rahasia umum. Seperti yang telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch, perawatan medis di bawah standar, dan pelanggaran seksual serta pelanggaran-pelanggaran lain yang diderita para tahanan transgender, menjadi masalah yang terus-menerus terjadi.

Para tahanan imigrasi terjebak dalam sebuah sistem ketidakseimbangan kekuatan ekstrem. Para imigran – entah mereka baru saja tiba di Amerika Serikat atau telah tinggal di sana sepanjang hidup mereka – tak berhak mendapatkan jasa pengacara dalam proses imigrasi, dan kebanyakan imigran yang ditahan tidak terwakili. Seringkali, ini terkait ketidakmampuan untuk membayar dan kurangnya pengacara yang mau mengambil kasus dalam tahanan. Banyak yang dimasukkan ke dalam daftar pemulangan yang dipercepat – sebuah proses di mana para petugas imigrasi memiliki wewenang yang nyaris tak terkontrol untuk mengevaluasi dan mendeportasi pencari suaka

ICE tidak memberikan pengawasan berarti terhadap ratusan pusat tahanan swasta dan penjara daerah yang beroperasi berdasarkan kontrak. Hasilnya adalah korban imigran dalam tahanan seperti Laura mungkin kurang memiliki akses terhadap keadilan.

Jadi, bisakah Laura, atau seorang imigran manapun yang ditahan, dengan aman mengajukan tuntutan tanpa hukuman balasan saat dia mengatakan “saya juga”? Jawaban dari pertanyaan itu tak hanya tergantung pada langkah ICE untuk memastikan hak-haknya dihormati, namun juga pada reformasi sistemis untuk meningkatkan pengawasan, keterbukaan, dan pertanggungjawaban di dalam sistem.