Skip to main content
A woman holds a protest sign that says "Marching with my lesbian sisters"

Wawancara: Pentingnya Hak-Hak LBQ+

Perempuan Lesbian, Biseksual, dan Queer Menghadapi Tantangan Tak Biasa

Sejumlah aktivis menggelar pawai di DykeMarch pada 1 Oktober 2022, untuk hari terakhir Konferensi Komunitas Lesbian* EuroCentralAsian (EL*C), di Budapest. © 2022 Human Rights Watch

Kekerasan dan diskriminasi yang mengubah hidup para perempuan lesbian, biseksual, dan queer (LBQ+) jarang menjadi pusat perhatian. Sejumlah laporan tentang LGBT jarang menyebutkan undang-undang yang membatasi perempuan untuk memiliki atau mewarisi tanah, dan dalam sebagian besar penelitian hak-hak perempuan, yang diwawancarai adalah perempuan heteroseksual. Kesenjangan dalam dokumentasi LBQ+ ini sering disebut "invisibilitas lesbian." Untuk laporan Human Rights Watch baru "Inilah Alasan Kami Menjadi Aktivis," Erin Kilbride menggelar penyelidikan di 26 negara, bertanya kepada para aktivis LBQ+ dan tokoh masyarakat tentang masalah-masalah terberat yang mereka hadapi. Kristen Sibbald berbicara dengan Kilbride tentang temuan-temuannya.

Laporan investigasi semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Mengapa Anda fokus pada orang-orang LBQ + secara khusus?

Pengalaman orang-orang LBQ+ sangat kurang terwakili dalam penelitian hak asasi manusia.

Perempuan queer banyak dirujuk dalam studi mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), tetapi pelanggaran terhadap hak yang dipilih untuk diteliti sering kali bukan yang paling mempengaruhi kehidupan LBQ+. Dalam 60 lebih wawancara dengan perempuan queer dan orang-orang non-biner, sangat sedikit yang membicarakan kriminalisasi hubungan seks sesama jenis, hukum anti-sodomi, atau pengakuan gender secara hukum—topik-topik yang umum dalam penelitian mengenai LGBT.

Bagi perempuan queer, hak milik perempuan, kawin paksa, dan femisida (pembunuhan terhadap perempuan atau anak perempuan atas dasar jenis kelaminnya) juga mengubah hidup mereka secara drastis. Penelitian mengenai hak-hak perempuan arus utama mencakup topik-topik tersebut, tetapi jarang berfokus pada pengalaman perempuan non-heteroseksual.

Kami ingin mendokumentasikan pengalaman kalangan LBQ+ dengan istilah-istilah khas mereka sendiri, bukan sebagai sub-kategori tema gay atau hak-hak perempuan yang lebih luas. Meskipun kata "intersectional" sudah sangat populer, perempuan queer tidak ada di persimpangan imajiner perempuan heteroseksual dan pria gay.

Apakah orang trans termasuk dalam label lesbian, biseksual, dan queer?

Laporan ini secara tegas bersifat trans-inklusif. Beberapa hal penting: Sejumlah orang LBQ+ adalah transgender, dan orang-orang non-biner secara eksplisit berpusat pada judul laporan ini. Selain itu, transpuan adalah perempuan, dan banyak di antara mereka adalah lesbian. Saya juga meyakini bahwa tidak ada keadilan bagi LBQ+ tanpa keadilan bagi trans.

Saya mewawancarai perempuan cisgender, perempuan transgender, laki-laki transgender, non-biner, dan queer. Siapa pun yang mengidentifikasi sebagai LBQ+ termasuk dalam "LBQ."

Penting juga untuk dikatakan bahwa batasan antara apa itu cisgender dan apa itu transgender sering tidak berlaku di ruang LBQ+. Kesamaan mereka adalah menolak laki-laki cisgender dari kehidupan romantis mereka. Dan untuk orang-orang LBQ+ maskulin, garis antara butch, stud, masculine of center, transpria, dan trans masc sering kali kabur. Hal ini dibangun secara budaya dan bergeser melintasi perbatasan, bahasa, dan masa hidup.

Sebagai contoh, beberapa lesbian yang lebih tua memberi tahu saya bahwa mereka akan mengidentifikasi diri mereka sebagai non-biner jika itu adalah "pilihan" ketika mereka masih muda. Beberapa orang secara perlahan mengubah cara mereka mengidentifikasi atau berbicara tentang diri mereka sendiri ketika mereka menjadi lebih nyaman dengan saya. Lesbian selalu merupakan konsep gender yang luas—dengan identitas dan ekspresi yang tidak sesuai dengan pemahaman tradisional tentang "laki-laki" atau "perempuan"—bahkan sebelum ada kata-kata untuk itu.

Read a text description of this video

Natpop: We will always remember those lesbianswho are in the front lines in so many cities today trying to resist. 


When we think about LGBT rights, we don’t often think about women’s rights to land and inheritance, girls’ access to education, or freedom of movement.  


These women’s rights issues are critical for lesbian, bisexual, and queer women, but don’t usually rank high among LGBT rights movements’ priorities. At the same time, LBQ+ women are also underrepresented in women’s rights research and advocacy.  


The global scale of discrimination and violence against them has fallen through the cracks.  


A Human Rights Watch global investigation uncovered the most critical forms of violence against LBQ+ women. 


Forced Marriage: 

The pressure to marry men and forced marriage were the most frequently reported abuses experienced by LBQ+ people around the world.     


Liliya: Bride napping and forced marriages are common practices in Kyrgyzstan. And my story is not unique, unfortunately. Since I was a kid, I was dreaming to travel all over the world. And when I was 18, I wanted to move out from the house. But my mama always said you will leave this house with a husband. Or after my death. So I have to get marriage. I kept thinking if I tried hard enough I would probably like staying with a man But it was terrible. It was torture to share a bed with a person you don't really like.  


Land Rights: 

Women face barriers or challenges in accessing and controlling land and property in about 40 percent of the world. This makes it much harder for two women to start a life together if neither can inherit, own or access land on equal terms with men.   


For example, in Mexico, women often do not have a say over how communal lands are managed, particularly in rural and Indigenous communities.  



Sofía: We all defend the land, but not all of us can access the land.  

Those who mainly have access to land continue to be men. The other thing is that, in our communities, they legitimize us by being wives. When we are not wives, when we are not mothers… the legitimacy is not the same.   


Violence Against Masculine-Presenting LBQ+ People 

Masculine-presenting women are often targeted with threats, physical attacks, sexual violence and harassment for not looking feminine enough and for daring to occupy masculine space in the world.   


Whitney: Violence you experienced is very convoluted and understanding what it means to separate your blackness from your sexual orientation and your gender identity. As a Black woman who is masculine presenting, people see you as this masculine presenting person, that kind of gives you these characteristics to be able to take or be strong or do anything.  

They also give people permission to then be more aggressive with you. When I lived in St Louis where I was physically attacked by the police and still to this day, I don't know if it was because I do present as a male, or if it was just because of my blackness. 



Violence at Work: 

LBQ+ women face sexual harassment, violence and threats by male colleagues at work, as well as discrimination in hiring practices, and widespread economic inequality.  



We have received complaints from lesbians who work in the fields. The first problem they encounter [after the assault] is who to turn to, most times they are not believed.  


The other problem is they could always suffer repercussions or another rape, or sexual assault. They might also have to travel 300 or 400 kilometers to make a report.   


Ultimately the social message, the message of institutional violence, is that you deserve it.  


Freedom of movement:  

30% of the 187 economies examined by the World Bank have laws that limit women’s freedom of movement. Laws criminalizing same-sex relations also restrict LBQ+ women's movement and empower police to harass LBQ+ women and activists in public.  



It took me a lot of time to accept myself because here in Tunisia, it's a huge taboo. It's something that it's like people would prefer to die to not let that secret get out.  


Societal pressure or religious pressure and, uh, the legal pressure like being like homosexuality it is punishable by law. Up to three years, well, in prison.  I started to avoid the checkpoints of the police, even though I did nothing.  


Did you run from your parents? Why is your hair short? Are you a lesbian?  


I don't feel safe in my own country. At moments of my life, I didn't feel safe in my own bed.  



Indiscriminate Attacks: 

LBQ+ activists are leading political, land, environmental, economic, gender, and racial justice movements -- beyond what is typically considered “LGBT rights” work.   


But many lack international visibility and funding, and their human rights work makes them targets for violent attacks.   




Last October we had a really, really small event for the trans community. It was a Saturday afternoon. Like half an hour in, someone knocked on the door… a group of ten people yeah, the police identified them as 11 people, were entering and this guy was running for president. I was like, “no, no, you can't enter.” And in that point, he just punched me. And I realized in that moment that they are here to fight. 


I believe that the attack in the rainbow was also part of the elections campaign because the person who was leading the group was running for president, he's a very famous neo-Nazi.   


We are not making it up like all the talk about discrimination and hate crimes.  




Governments around the world should abolish sexist laws and create protocols that explicitly protect the rights of LBQ+ people. 


Donors should fund LBQ+ rights organizations and LBQ+ led movements for environmental, racial, economic, and migrant rights. 




Bagaimana isu-isu utama yang mempengaruhi orang-orang LBQ+ berbeda dari isu-isu yang mempengaruhi laki-laki gay, biseksual, atau queer?

Di banyak negara, akses untuk mendapatkan properti, tanah, atau bahkan pindah dari rumah orang tua Anda bergantung pada menikah atau tidaknya perempuan dengan seorang laki-laki.

Liliya, seorang aktivis di Kirgistan yang dipaksa menikah dengan seorang laki-laki ketika berusia 19 tahun, mengatakan kepada saya bahwa "tidak ada jalan menuju kebebasan jika Anda tidak menikahi seorang laki-laki."

Dia kemudian menceraikan laki-laki itu. Seperti banyak perempuan lain yang saya wawancarai, Liliya ingin mulai berkencan dengan perempuan setelah bercerai. Namun, ia tak bisa melakukannya karena, sebagai perempuan yang tak terikat pernikahan, ia harus kembali tinggal bersama orang tuanya.

Kata seorang aktivis di Lebanon, teman-teman LBQ+-nya secara aktif mencari laki-laki gay untuk dinikahi, bukan untuk menyembunyikan bahwa mereka gay, tetapi karena mereka membutuhkan suami untuk pindah, keluar rumah pada malam hari, dan bepergian tanpa harus menerima kecaman dari anggota keluarga.

Sofia, seorang queer sekaligus aktivis hak-hak tanah masyarakat adat di Meksiko, mengatakan kepada saya bahwa laki-laki menguasai tanah di komunitasnya dan perempuan dapat mendekati kekuasaan hanya dengan menikahi mereka.

Liliya Ten, aktivis hak asasi LBQ+, berbicara dengan Human Rights Watch di Kirgistan. © 2022 Human Rights Watch

Adakah aturan hukum lain yang secara global memengaruhi pasangan LBQ+ secara berbeda?

Pertimbangkan bagaimana dua lesbian akan mulai hidup bersama jika mereka tinggal di negara dengan hukum kewarisan yang tidak setara, dan kedua kakak laki-laki mereka mewarisi semua tanah keluarga. Jika mereka tinggal di negara dengan hukum perwalian laki-laki, siapa yang seharusnya menandatangani sewa apartemen yang mereka inginkan jika mereka berdua harus meminta izin ayah mereka untuk melakukannya?

Untuk penelitian ini, kami berulang kali mendengar bahwa kawin paksa tidak sesederhana "Orang tua saya mengetahui bahwa saya adalah seorang lesbian, jadi mereka memaksa saya untuk menikahi seorang anak laki-laki dari desa tetangga." Ini adalah kenyataan bahwa, sebagai seorang perempuan, Anda tidak akan bisa bertahan hidup, atau makan, atau mengurus anak-anak yang ingin Anda miliki jika Anda tidak menikah dengan seorang laki-laki, karena Anda tidak bisa memiliki, mewarisi, atau mengelola properti tanpa laki-laki.

Lalu ada kesenjangan upah. Siapa yang bisa menabung untuk pensiun jika mereka berdua menghasilkan dua pertiga dari apa yang dilakukan laki-laki di perusahaan mereka?

Sofía Blanco, pembela hak-hak adat, berbicara dengan Human Rights Watch di Meksiko. © 2022 Human Rights Watch

Laporan Anda juga mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi pasangan LBQ+ untuk memiliki anak.

Ya, orang-orang di Kenya, Ukraina, AS, dan negara-negara lain berbicara soal bagaimana membentuk dan melindungi keluarga mereka. Salah satu kasus dalam laporan itu adalah tentang seorang ibu lesbian yang secara harfiah dihapus dari akta kelahiran putranya karena pendonor sperma memutuskan untuk menyematkan namanya pada nama anak tersebut, sesuatu yang disetujui oleh pengadilan. Keputusan itu kemudian dibatalkan, tetapi itu menunjukkan betapa gentingnya hak para ibu lesbian yang tidak mengandung dan melahirkan anak-anak mereka sendiri.

Beberapa negara juga tidak mengizinkan perempuan lajang untuk mengadopsi. Jadi, jika Anda tidak bersuami dan tidak ada kesetaraan pernikahan, Anda tidak bisa memiliki anak.

Selain itu, jauh lebih mudah bagi pasangan heteroseksual untuk mendapatkan perawatan kesuburan karena membuktikan infertilitas adalah proses yang mudah. Satu atau dua tahun berhubungan seks tanpa kondom tanpa hamil adalah apa yang dipersyaratkan beberapa perusahaan asuransi di AS. Anehnya, hanya mengatakan "kami berdua memiliki rahim" tidak menjadikan pasangan lesbian memenuhi syarat sebagai "tidak subur;" mereka secara historis harus secara mandiri mengeluarkan dana puluhan ribu dolar agar dapat mendapatkan perawatan kesuburan sendiri dan menunjukkan bahwa itu tidak berhasil, sebelum memenuhi syarat untuk pertanggungan asuransi yang bisa didapat pasangan heteroseksual hanya dengan berhubungan seks. Inggris memiliki sistem serupa, meskipun reformasi di negara tersebut menuju ke arah yang benar, tetapi Jepang sedang mempertimbangkan undang-undang yang akan melarang perempuan yang belum menikah mengakses perawatan kesuburan sama sekali. Karena Jepang tidak mengizinkan kesetaraan dalam pernikahan, hal ini akan secara efektif melarang pasangan lesbian untuk mendapat perawatan.

Aktivis memprotes kebrutalan polisi di St. Louis, Missouri. © 2017 Privat

Mengapa hanya ada sedikit penelitian tentang orang-orang LBQ +?

Jawabannya hanya satu kata: patriarki.

Selama beberapa dekade, kelompok LGBT hanya dapat mengakses pendanaan HIV, karena homofobia dan transfobia yang masih terus ada. Hal ini menyebabkan pekerjaan yang berpusat pada laki-laki gay dan, pada akhirnya, transpuan.

Selain itu, perempuan queer dan orang-orang non-biner menghadapi hukum dan kebijakan patriarki di seluruh dunia. Hal-hal seperti hukum perwalian laki-laki yang mengharuskan perempuan untuk memiliki ayah atau suami yang membuat keputusan penting atas nama mereka, stigma, dan seksisme mencegah perempuan aktif di ruang publik, baik sebagai gay atau tidak. Hal ini turut berkontribusi pada pengorganisasian LGBT yang tetap berpusat pada laki-laki.

Namun sebagian besar masyarakat merendahkan seksualitas perempuan. Hubungan LBQ + kurang mendapat legitimasi dibandingkan dengan hubungan yang melibatkan laki-laki.

Ada mitos yang terus berkembang bahwa perempuan queer entah bagaimana lebih aman daripada laki-laki gay dan perempuan transgender, hanya karena banyak hukum anti-sodomi tidak secara eksplisit mengkriminalisasi seks lesbian. Hal ini mengesampingkan semua bahaya dan pembatasan lain yang dihadapi kalangan lesbian. Ada satu bagian dalam laporan ini yang didedikasikan bagi serangan fisik, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap pasangan lesbian selama lima tahun terakhir, untuk menunjukkan kekerasan fisik sangat nyata yang mereka hadapi. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir beberapa negara, termasuk Brunei dan Chad, telah secara eksplisit mengkriminalisasi perilaku sesama jenis di antara perempuan.

Lalu masalah uang. Perempuan menghasilkan lebih sedikit uang daripada laki-laki, dan mereka cenderung diharapkan untuk menjadi pengasuh, yang membutuhkan waktu. Hal ini membuat mereka memiliki lebih sedikit uang dan lebih sedikit waktu untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Para pengunjuk rasa menuntut diakhirinya kekerasan dan pelecehan seksual pada demonstrasi #MeToo di Tunisia. © 2020 Privat

Untuk laporan ini, Anda sudah mewawancarai aktivis, pengacara, dan pembela hak asasi manusia LBQ+ di 26 negara. Hal apa yang paling mengejutkan Anda?

Apa yang benar-benar membekas pada saya adalah semua cara yang membuat perempuan kehilangan hubungan pribadi mereka "karena saya bukan laki-laki." Laporan itu dibuka dengan kisah seorang aktivis di Tunisia yang dipaksa oleh keluarga pacarnya untuk menikah dengan seorang pria. Sekali lagi, bukan karena mereka tahu dia seorang gay, melainkan karena di komunitasnya, Anda tidak bisa pindah dari rumah orang tua sampai Anda menikah dengan seorang laki-laki. Jadi para perempuan itu perlahan dan secara menyakitkan berpisah. Ini jauh lebih kompleks daripada hukuman karena menjadi gay. Ini tak ubahnya hukuman karena menjadi seorang perempuan.

Gagasan itu—ini pelemahan dan merendahkan hubungan LBQ + karena tidak ada pasangan yang merupakan laki-laki —sangat umum ditemukan dalam wawancara. Saya mendengar dari begitu banyak orang di berbagai negara yang mengalami rasa sakit yang persis sama. Merendahkan diri sendiri karena Anda bukan laki-laki, dalam konteks di mana hukum, kebijakan, dan praktik kelembagaan menjadikan laki-laki satu-satunya pasangan yang "layak" bagi perempuan.

Apa yang Anda ingin pembaca dapatkan dari laporan ini?

Perempuan queer dan orang-orang non-biner berada di garis depan dalam banyak gerakan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Mereka memimpin berbagai organisasi dan aksi protes, atas nama iklim, hak-hak masyarakat adat, dan upaya kemanusiaan, dan sebagainya. Tujuan dari laporan ini adalah untuk mendorong penelitian, advokasi, dan pendanaan yang lebih baik untuk gerakan LBQ+, karena para aktivis ini adalah ahli dalam pelanggaran hak asasi yang dihadapi komunitas mereka.

*Wawancara ini telah diedit dan diringkas. 




Your tax deductible gift can help stop human rights violations and save lives around the world.