Pengunjuk rasa berkumpul di Houston untuk menyerukan penyatuan kembali keluarga migran yang terpisah di perbatasan Amerika Serikat, 1 Juli 2018. 

Seorang pria yang saya ajak bicara, berasal dari Guatemala, memberi tahu saya bahwa putranya yang berusia 10 tahun dulunya adalah anak yang ceria dan penuh kepercayaan. Tetapi pada bulan Juni, keduanya secara paksa dipisahkan oleh petugas imigrasi Amerika Serikat ketika mereka menyeberangi perbatasan untuk mencari suaka. Pada saat keluarga itu bersatu kembali di pusat penahanan setelah lebih dari satu bulan, putranya tampak berubah.

“Dia tampak murung dan sekarang tidak banyak bicara,” kata pria itu tentang putranya. Anak laki-laki itu gelisah, kurang memperhatikan di kelas, dan mengalami mimpi buruk. Perilaku ini semua tak pernah dia tunjukkan sebelumnya.

Empat bulan setelah Presiden Donald J. Trump mengakhiri aspek terburuk dari kebijakan pemisahan keluarga yang dikeluarkannya, ratusan anak masih menghadapi trauma karena keluarga mereka tercerai berai. Terlebih lagi, pemerintah telah beralih ke kebijakan yang merusak lainnya. Meskipun taktiknya telah bergeser, serangannya terhadap anak-anak dan keluarga migran terus berlanjut.

Perintah Trump memperjelas bahwa harga untuk mengakhiri pemisahan keluarga secara paksa adalah penahanan keluarga tanpa batas waktu — tawar-menawar setan, mengingat bahaya penahanan terhadap anak-anak yang terdokumentasi dengan baik.

Pemerintah berusaha untuk mendapatkan perintah pengadilan yang membatasi penahanan imigrasi keluarga hingga 20 hari. Dan pihak berwenang menahan sejumlah besar anak-anak tanpa pendamping.

Menurut The New Yorker, ada 13.200 anak - “lebih dari sebelumnya” - berada di pusat penahanan imigrasi yang dikelola oleh Kantor Pemukiman Pengungsi Amerika Serikat. Dan anak-anak tanpa pendamping sekarang ditahan rata-rata 74 hari, dua kali lebih lama dibandingkan masa tinggal di awal tahun 2016.

Lonjakan angka ini tidak terjadi karena lebih banyak orang yang datang; tidak. Ini terjadi karena pemerintahan Trump telah mempersulit upaya untuk membebaskan anak-anak untuk dirawat anggota keluarga yang tinggal di Amerika Serikat.

Pemerintah mengatakan telah memperkenalkan pemeriksaan ketat untuk memastikan keselamatan anak-anak. Tetapi yang mereka lakukan sebenarnya adalah menggunakan anak-anak untuk menangkap anggota keluarga mereka yang tidak terdokumentasi.

Hingga baru-baru ini, pihak berwenang membebaskan anak-anak tanpa pendamping untuk memeriksa anggota keluarga apapun status imigrasi mereka, dengan tanpa ragu menyimpulkan bahwa yang terbaik bagi anak-anak adalah berada di rumah yang aman dan penuh kasih saat kasus imigrasi mereka sedang berjalan. Sekarang pemerintah menangkapi anggota keluarga tidak berdokumen yang mengajukan diri untuk merawat anak kerabat migran mereka.

Ini bukan satu-satunya contoh di mana petugas imigrasi menggunakan bahasa perlindungan anak untuk membenarkan praktik yang membahayakan anak-anak.

Saat ini pihak imigrasi berusaha untuk menerapkan sejumlah persyaratan baru atas pemeriksaan latar belakang dari para pengacara sebelum mereka dapat bertemu dengan klien yang adalah anak-anak tanpa pendamping. Formulir persetujuan menjelaskan bahwa laporan itu bisa termasuk sejarah reputasi dan informasi tentang “karakteristik pribadi” dan “cara hidup,” menggambarkan segenap pemeriksaan ini sebagai “tindakan pengamanan.”

Pemerintah tidak dapat secara serius mengusulkan bahwa mendapatkan skor reputasi pengacara diperlukan untuk memastikan keselamatan anak-anak.

Faktanya, masing-masing negara bagian sudah secara cermat menjalankan pemeriksaan latar belakang terhadap calon pengacara, meninjau rincian seperti denda parkir yang jumlahnya luar biasa serta masalah yang lebih serius - catatan kriminal, pembayaran tunjangan anak, dan sejenisnya. Menggandakan upaya ini akan menghabiskan waktu dan sumber daya.

Pemeriksaan wajib reputasi dan penyelidikan pribadi yang menjemukan juga dapat menghalangi pengacara untuk mengambil calon klien, dan membuat lebih banyak anak yang tidak punya pendamping tanpa bantuan hukum.

Secara bersama-sama, kebijakan-kebijakan ini tampaknya dirancang untuk menghukum daripada melindungi anak-anak dan keluarga mereka.

Jika pemerintah serius akan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak migran, mereka akan memfasilitasi, bukan malah memblokir, akses mereka kepada pengacara. Ini akan membuat anak-anak tanpa pendamping dan keluarga bisa mengurus kasus mereka tanpa dikurung, menggunakan sejumlah percontohan yang sukses dan telah diuji oleh ICE.

Dan itu akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, termasuk dengan memastikan layanan kesehatan mental untuk membantu anak-anak pulih dari trauma yang ditimbulkannya.