(Washington, DC) - Seorang saksi yang terkait dengan penyelidikan kriminal terhadap mantan Presiden Kolombia Alvaro Uribe Velez dibunuh pada 14 April 2018, dan saksi-saksi lain terancam, sebut Human Rights Watch hari ini (26/4). Pemerintah seharusnya melipatgandakan perlindungan terhadap para saksi dan keluarga mereka.

Senator Alvaro Uribe, mantan presiden Kolombia, menghadiri sebuah debat di kongres di Bogota, Kolombia, 3 Oktober 2016. 

© 2016 Reuters

Mahkamah Agung memerintahkan penyelidikan pada 16 Februari. Uribe, sekarang seorang senator, mengajukan gugatan pidana pada 2012 terhadap Senator Iván Cepeda, mengatakan bahwa dia telah menggunakan kesaksian “palsu” untuk melibatkan Uribe dan saudara laki-lakinya Santiago dalam kekejaman paramiliter pada 1990-an. Mahkamah Agung menolak tuduhan terhadap Cepeda dan malah memulai penyelidikan terhadap Uribe,  menjabat sebagai presiden dari tahun 2002 hingga 2010, yang telah mempengaruhi saksi, menekan mereka untuk mengatakan bahwa Cepeda telah menyuap mereka untuk melibatkan mantan presiden.

“Kamar Pidana Mahkamah Agung Kolombia telah menunjukkan keberanian yang mengesankan dalam memulai penyelidikan Uribe ini,” kata José Miguel Vivanco, direktur Amerika di Human Rights Watch. “Tapi kebenaran tidak akan pernah terungkap jika pemerintah tidak menjamin perlindungan penuh untuk para saksi dan keluarga mereka.”

Laporan-laporan media mengindikasikan bahwa dua orang pria yang mengendarai sepeda motor tanpa pelat nomor secara fatal menembak Carlos Enrique Areiza Arango, mantan anggota unit pembunuh paramiliter dan salah satu saksi dalam kasus itu, pada 14 April di sebuah mal di pusat kota Bello, Antioquia.

Dalam putusan bulan Februari, Mahkamah Agung mendesak pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan bagi tiga saksi - Areiza, dan Juan Guillermo Monsalve dan Pablo Hernán Sierra, dua anggota lain dari unit pembunuh. Menurut pengadilan, para saksi hidup dalam “ketakutan terus menerus” akan pembalasan.

Pada 2014, Areiza mengatakan kepada jaksa bahwa Luis Fernando Ramos, mantan gubernur dan sekutu Uribe, telah bersekongkol dengan kelompok paramiliter. Namun tahun 2015, beberapa surat kabar Kolombia menerbitkan sebuah surat yang konon ditandatangani oleh Areiza, di mana dia mengatakan bahwa Senator Cepeda telah menawarkan kepadanya 100 juta peso Kolombia (sekitar Rp.486 juta) untuk mengatakan cerita bohong yang melibatkan Uribe dan Ramos dalam tindak kejahatan.

Tahun 2016, Areiza dihukum karena kesaksian palsu bahwa Ramos terlibat dalam kolusi dengan kelompok paramiliter, setelah dia mengaku terikat perjanjian pengakuan untuk kesaksian palsu. Putusan Mahkamah Agung bulan Februari memerintahkan penyelidikan atas perjanjian permohonan yang “diragukan” itu.

Areiza mengatakan kepada Mahkamah Agung dalam kesaksiannya untuk kasus Uribe-Cepeda, bahwa surat itu dibuat dengan lembaran kertas kosong yang dia tanda tangani. Seorang jurnalis Kolombia, Daniel Coronell, mempublikasikan sebuah video pada 21 April di mana Areiza mengatakan bahwa dia “sangat prihatin dengan isu-isu di sekitar surat itu” dan “mulai mengkhawatirkan hidup [nya].” Areiza mengatakan kepada pengadilan bahwa dia menerima ancaman karena kesaksiannya terhadap Ramos dan bahwa dia telah menandatangani surat-surat itu agar dia “tidak akan berakhir dengan dibunuh.”

Isu keterlibatan Uribe dengan kelompok paramiliter telah dimunculkan sebelumnya, pada tahun 2011, oleh Monsalve dan Sierra, yang memberi Cepeda kesaksian yang direkam  yang mengaitkan Uribe dan saudara laki-lakinya dalam terbentuknya unit pembunuh di Antioquia yang dikenal sebagai “Blok Metro.” Monsalve dan Sierra mengatakan di pengadilan bahwa Cepeda tidak menyuapnya untuk membuat pernyataan itu atau memintanya untuk melibatkan mantan presiden.

Monsalve menerima “ancaman terus menerus dan berulang” selama di penjara, seperti yang disebutkan Mahkamah Agung dalam putusannya pada Februari. Pada September 2011, Monsalve mengirim surat kepada Jaksa Agung saat itu Viviane Morales. Isi surat itu adalah bahwa kerabatnya di Antioquia telah menerima “ancaman kematian” dari seseorang yang mengatakan kepada mereka bahwa dia harus “mundur” dan mengatakan dia gila.

Menanggapi tuduhan Monsalve, pengacara mantan Presiden Uribe menyerahkan sebuah surat untuk pengadilan. Surat itu berasal dari seorang tahanan yang mengaku telah mendengar Monsalve membual di halaman penjara bahwa dia berbohong karena Cepeda “memberinya uang.” Tapi pengadilan menemukan bahwa surat narapidana itu “tidak masuk akal” karena, dalam kesaksian lisan, dia tidak dapat menjelaskan “situasi, motif, atau keadaan” seputar tuduhannya.

Sierra mengatakan kepada Mahkamah Agung bahwa dia tak mengalami ancaman langsung, tetapi salah satu pengacaranya, Carlos Toro, mengundurkan diri pada 2014 karena “intimidasi.” Pada saat itu, Toro mengatakan kepada pers bahwa salah satu putranya didekati oleh orang-orang bersenjata yang mengatakan kepadanya bahwa dia tidak seharusnya terus “bekerja di Medellin dan pada isu-isu yang bukan urusannya.” Toro mengatakan dia berpikir mereka mengacu kepada Sierra karena dia adalah satu-satunya kliennya di Medellin pada saat itu.

Tahun 2011, Alvaro dan Santiago Uribe mengajukan gugatan pidana melawan Sierra dengan tuduhan “melakukan fitnah.” Pada Mei 2015, pengadilan di Antioquia membebaskan Sierra. Pengadilan tingkat berikutnya memperkuat keputusan itu pada bulan Juni 2015.

Pada 16 April, Mahkamah Agung mendesak Kejaksaan Agung untuk memprioritaskan penyelidikannya atas kasus pembunuhan Areiza. Tanggal 18 April, Senator Uribe meminta Kejaksaan Agung untuk segera menyelidiki pembunuhan itu.

“Kantor Kejaksaan Agung seharusnya melakukan penyelidikan yang cepat dan mendalam guna mengusut motif di balik pembunuhan Areiza itu, serta ancaman terhadap sejumlah saksi lain,” kata Vivanco.