Sejumlah pengunjuk rasa mendorong polisi dalam sebuah aksi guna menyerukan hak menentukan nasib sendiri di tanah Papua yang dikuasai Indonesia, di Jakarta, 1 Desember 2016. 

© 2016 Reuters

Ada beberapa versi cerita tentang bagaimana Rico Ayomi, seorang pelajar berusia 17 tahun, meninggal dunia di Sorong, di provinsi Papua Barat, setelah 24 jam berada dalam tahanan polisi.

Polisi awalnya mengatakan Ayomi ditemukan tak sadarkan diri di dekat botol kosong dengan kadar alkohol 70 persen, ketika mereka menahan Ayomi pada tengah malam 11 Maret, menunjukkan bahwa kematiannya 27 jam kemudian merupakan akibat dari "keracunan alkohol."

Tapi Simon Soren, seorang kerabat Ayomi, kepada Human Rights Watch mengatakan bahwa saat polisi mengembalikan Ayomi ke keluarganya 24 jam setelah penahanan, pemuda itu berada dalam keadaan tak sadarkan diri dan mengalami luka termasuk "memar di pipi kiri, bahu kiri, hidung berdarah dan patah rahang." Ayomi tidak pernah sadarkan diri, lantas meninggal tiga jam kemudian. Soren menerima informasi dari saksi mata yang mengatakan kepadanya bahwa massa telah menyerang Ayomi pada malam 11 Maret, karena korban dituduh mencuri.

Pada 21 Maret, Wakil Kepala Kepolisian Resor Sorong Kota, Chandra Ismawanto, mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa penilaian polisi atas "keracunan alkohol" sebagai penyebab kematian Ayomi "kontroversial" dan bahwa polisi sekarang menduga Ayomi meninggal karena kombinasi konsumsi alkohol yang berlebihan dan aksi pengeroyokan. Ia menolak untuk mengatakan apakah polisi saat itu sedang melakukan penyelidikan. Ismawanto mengatakan, hasil otopsi akan diumumkan pekan lalu, tetapi kami maupun pihak keluarga tak bisa mendapatkan hasilnya.

Berbagai pertanyaan tentang perlakuan polisi dalam kasus Ayomi tidak berakhir di sana. Ismawanto menegaskan bahwa pihaknya menunggu selama 23 jam setelah mereka menahan Ayomi sebelum membawanya ke rumah sakit, menghubungkan penundaan itu dengan lambatnya persetujuan resmi. Ia mengatakan polisi mencatat kegagalan Ayomi untuk kembali sadar dari pingsannya saat dalam tahanan sebagai sesuatu yang "aneh." Tetapi dokter di rumah sakit menyatakan bahwa Ayomi "sehat" adanya.

Seluk-beluk seputar kematian Ayomi menuntut penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan tidak memihak. Tapi itu sepertinya takkan terjadi. Otoritas Indonesia jarang menyelidiki pasukan keamanan yang terlibat dalam kematian orang-orang Papua. Dalam kasus-kasus di mana investigasi benar-benar terjadi, polisi yang terbukti bersalah dalam pembunuhan di luar hukum selalu menghadapi hukuman ringan bukannya penuntutan pidana.

Hingga ada kemauan politik di Jakarta untuk secara serius menyelidiki dan mengadili pembunuhan terhadap orang-orang Papua oleh pasukan keamanan atau penyerang tak dikenal, nyawa orang-orang Papua seperti Rico Ayomi akan tetap berada dalam risiko.