Sudah setahun sejak Ruth Alicia Lopez Guisao, seorang aktivis hak asasi manusia di Kolombia, dibunuh oleh orang-orang bersenjata tak dikenal. Ia adalah seorang pemimpin komunitas yang bersuara lantang dan bekerja dengan kelompok Afro-Kolombia dan beberapa kelompok penduduk asli terkait reformasi lahan di wilayah barat Chocó.

Ruth Alicia López Guisao.

© Congreso de los Pueblos

Selama bertahun-tahun, keluarganya telah hidup dalam ketakutan terhadap paramiliter, kelompok bersenjata mirip mafia yang menggambarkan diri mereka sebagai pasukan “pertahanan diri” yang memerangi para gerilyawan sayap kiri, tetapi ada di antara mereka adalah pedagang narkoba terbesar di negara itu. Teror ini berlanjut setelah kematiannya karena, menurut laporan media, ibu dan saudara perempuannya mendapat ancaman pembunuhan, sekaligus peringatan agar mereka tidak menghadiri pemakamannya.

Banyak orang belum pernah mendengar tentang Guisao, karena kematiannya tidak banyak dilaporkan di berita internasional. Guisao hanyalah satu dari 16 aktivis perempuan yang terbunuh di Kolombia tahun lalu, menurut Somos Defensores (Kami Para Pembela - Spanyol), salah satu kelompok terkemuka di Kolombia yang melaporkan kekejaman terhadap aktivis.

Pada Hari Perempuan Internasional, pihak berwenang Kolombia seharusnya memberi perhatian kepada para aktivis perempuan seperti Guisao, yang diancam dan dibunuh, dan menghormati kontribusi mereka untuk hak asasi manusia.

Meski di Kolombia ada program untuk melindungi aktivis, ada peningkatan jumlah aktivis hak asasi manusia yang terbunuh setelah penandatanganan perjanjian damai 2016 dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Puluhan aktivis lokal telah dibunuh oleh kelompok-kelompok bersenjata, termasuk para penerus paramiliter dan gerilyawan. Banyak dari kasus-kasus ini mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok bersenjata lainnya bergegas untuk menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh FARC.

Menurut Somos Defensores, dari 560 pegiat hak asasi manusia yang menjadi korban penyerangan di Kolombia pada 2017, lebih dari 25 persen di antaranya adalah perempuan. Somos Defensores melaporkan ada empat kasus “kekerasan ekstrem” terhadap perempuan — termasuk penyiksaan, kebrutalan, dan kekerasan seksual. Para pembela hak asasi manusia perempuan menghadapi risiko yang sama dengan rekan laki-laki mereka, tetapi sangat rentan terhadap ancaman dan kekerasan berbasis gender. Dalam konflik bersenjata, ancaman pemerkosaan dan ancaman terhadap keluarga mereka menciptakan rasa takut yang akut bagi aktivis perempuan.

Dalam menghadapi meningkatnya kekerasan terhadap para aktivis, pemerintah Kolombia seharusnya melipatgandakan upayanya untuk melindungi mereka — termasuk di daerah yang sebelumnya dikendalikan oleh FARC — dan memprioritaskan penyelidikan atas kematian mereka. Para aktivis perempuan memainkan peran penting. Dengan melindungi mereka, pemerintah dapat berbuat lebih banyak untuk menciptakan perdamaian abadi di negara tersebut.