Pengunjuk rasa meneriakkan slogan dan membawa poster berisi kecaman atas pemerkosaan dan pembunuhan pada seorang gadis berusia 7 tahun Zainab Ansari di Kasur, dalam sebuah demonstrasi di Peshawar, Pakistan pada 11 Januari 2018.

© 2018 Reuters

Kemarin (11/1), pembawa berita asal Pakistan Kiran Naz mengudara bersama anak perempuannya untuk memprotes pemerkosaan dan pembunuhan Zainab Ansari, seorang gadis berusia 7 tahun, yang tubuhnya dibuang ke tumpukan sampah.

“Memang benar ketika mereka mengatakan bahwa peti mati terkecil adalah yang terberat,” kata Naz, yang duduk memangku putrinya. “Dan seluruh Pakistan terbebani oleh berat peti matinya.”

Zainab hilang pada 4 Januari dan lima hari kemudian mayatnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan, sehingga memicu terjadinya demonstrasi luas di Pakistan.

Sikap tidak peduli yang berlebihan terhadap beberapa kejahatan bisa mengguncang sebuah negara. Tapi sering kali, peristiwa kekerasan seksual terhadap anak tidak terungkap.

Menurut organisasi nonpemerintah yang berbasis di Islamabad, Sahil, rata-rata setiap hari ada 11 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilaporkan terjadi di seluruh Pakistan. Zainab termasuk di antara belasan anak yang dibunuh di Distrik Kasur di Provinsi Punjab selama satu tahun terakhir. Pada tahun 2015, polisi mengidentifikasi sekelompok pelaku penyerangan seksual terhadap anak di distrik yang sama.

Bukan hanya di Pakistan – kekerasan seksual terhadap anak perempuan dan perempuan adalah hal yang kerap terjadi di Asia Selatan. Di India, kejahatan yang meyadarkan negara itu atas kenyataan nan kejam ini terjadi pada 2012, ketika seorang mahasiswi berusia 23 tahun, Jyoti Singh Pandey, diperkosa oleh sekelompok orang dan ditinggalkan di jalanan dalam keadaan luka parah. Kemarahan rakyat India pun meletus, menuntut agar pemerintah mengambil tindakan untuk mengakhiri kekerasan seksual.

Meski masih banyak yang harus dilakukan, parlemen India akhirnya menanggapi, dengan suara bulat mengadopsi reformasi dalam hal menuntut kekerasan seksual dan mengajukan kebijakan baru. Namun bahkan sebelum serangan terhadap Pandey, pemerintah India telah memberlakukan undang-undang guna melindungi anak-anak dari kekerasan seksual.

Pada tahun 2013, Human Rights Watch menerbitkan Breaking the Silence, yang mencakup rekomendasi terperinci kepada pemerintah India guna melindungi anak-anak dari kekerasan seksual. Langkah serupa juga dibutuhkan di Pakistan. Ini termasuk mempercayai anak-anak yang melaporkan pelecehan, memastikan korban menerima perawatan penuh hormat dari para petugas kesehatan, dan memastikan agar polisi menangani kasus ini dengan cara yang melindungi korban, dan bukan malah membuat mereka semakin terluka.

Kekerasan seksual terhadap anak bukan sesuatu yang tak bisa dihindari. Reaksi keras dari masyarakat dan pemerintah bisa membuat perbedaan antara hidup dan mati bagi anak-anak kecil yang berhak mendapatkan perlindungan kita. Beban berat dari peti mati-peti mati kecil ini harus diakhiri.