(New York) - Kaum Muslim etnis Rohingya yang melarikan diri dari pasukan keamanan Burma di Negara Bagian Rakhine menjabarkan serangkaian pembunuhan, penembakan, serta pembakaran di desa-desa mereka, yang mempunyai semua ciri "pembersihan etnis," ujar Human Rights Watch hari ini.

Militer dan polisi Burma, juga kelompok-kelompok etnis Rakhine yang bersenjata, telah menjalankan berbagai operasi terhadap desa-desa berpenduduk mayoritas Rohingya sejak serangan para gerilyawan Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (Arakan Rohingya Salvation Army - ARSA) terhadap sekitar 30 pos polisi dan pangkalan militer pada 25 Agustus 2017. Panglima militer Burma Jenderal Besar Min Aung Hlaing menyampaikan kepada media bahwa operasi-operasi pembersihan oleh militer yang disetujui pemerintah di Negara Bagian Rakhine adalah "urusan-urusan yang belum selesai" peninggalan masa Perang Dunia Kedua.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa semestinya menggelar pertemuan darurat terbuka dan memperingatkan otoritas Burma bahwa mereka bakal menghadapi sejumlah sanksi keras jika tak menghentikan kampanye brutal terhadap masyarakat Rohingya.

"Para pengungsi Rohingnya punya banyak ingatan buruk tentang bagaimana mereka menghindari gempuran militer Burma serta menyaksikan desa-desa mereka diratakan dengan tanah," kata Meenakshi Ganguly, direktur Asia Selatan di Human Rights Watch. "Operasi militer taat hukum terhadap kelompok-kelompok bersenjata tak melibatkan pembakaran rumah-rumah warga."

Pada awal September, Human Rights Watch mewawancarai lebih dari 50 pengungsi Rohingnya yang berhasil melintasi perbatasan ke Bangladesh dan memperoleh kesaksian terperinci dari puluhan orang. Kepada Human Rights Watch para pengungsi itu mengatakan, pasukan keamanan pemerintah Burma menyerang warga desa dengan senjata api, mengakibatkan luka tembak dan cedera karena pecahan proyektil, serta membakar rumah-rumah mereka. Mereka juga menyatakan bahwa militer menggunakan senjata api kecil, mortir, dan helikopter perang dalam serangan-serangan tersebut.

Human Rights Watch memperoleh data dan citra satelit yang konsisten dengan kebakaran besar di kawasan utara Negara Bagian Rakhine, mencakup kotapraja Rathedaung, Buthidaung, dan Maungdaw. Sampai hari ini, Human Rights Watch telah menemukan 21 lokasi khas di mana teknologi pelacak panas satelit mengenali api-api besar yang ancamannya tak main-main. Sumber-sumber yang dapat dipercaya di Bangladesh mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa mereka mendengar bunyi khas tembakan senapan-senapan mesin ringan dan berat serta pemberondongan mortir di desa-desa di seberang perbatasan di Burma, dan melihat asap membubung dari desa-desa itu tak lama kemudian.

Pemerintah Burma menyangkal sejumlah pelanggaran yang dilakukan pasukan keamanan, dan mengklaim bahwa militer sedang melawan terorisme di mana hampir 400 orang telah terbunuh, sebagian besar merupakan terduga gerilyawan. Otoritas-otoritas Burma menegaskan, tanpa memperkuat klaim mereka, bahwa gerilyawan dan warga desa Rohingya telah membakar 6.845 rumah di 60 desa di kawasan utara Negara Bagian Rakhine. Pernyataan itu bertentangan dengan kesaksian para pengungsi.

Mari ambil contoh: Momena, perempuan Rohingya berumur 32 tahun asal Maungdaw. Ia mengaku melarikan diri ke Bangladesh pada 26 Agustus, sehari setelah pasukan bersenjata menyerbu desanya. Mula-mula, saat tentara datang, ia bersembunyi dengan anak-anaknya. Tetapi kemudian, saat kembali ke desa, ia melihat 40 hingga 50 warga telah meninggal dunia, termasuk beberapa anak dan orang berusia lanjut: "Mereka semua punya luka tikam atau luka tembak, beberapa bahkan punya keduanya. Ayah saya adalah salah satu yang tewas; lehernya digorok. Saya tak dapat memakamkannya-- saya langsung melarikan diri."

Di rumah sakit Cox's Bazar, Human Rights Watch mewawancarai sejumlah orang Rohingya yang menderita luka tembak. Sebagian mengaku tertembak saat berada di rumah, yang lainnya terkena peluru saat berusaha melarikan diri dari desa masing-masing, atau saat bersembunyi di ladang atau perbukitan untuk menghindari serdadu-serdadu Burma.

Usman Goni (20 tahun) bilang, ia dan lima temannya sedang berada di perbukitan di luar desa mereka, menggembalakan lembu, ketika mereka digempur. Ia melihat satu helikopter terbang di atas mereka lalu menjatuhkan sesuatu. Kelak, ia sadar bahwa benda-entah-apa yang dijatuhkan helikopter itulah yang menghajarnya. Empat temannya mati terkena pecahan proyektil ketika warga desa mengungsikan Goni ke Bangladesh agar ia bisa dirawat. Pecahan proyektil di bagian atas tubuhnya belum diambil saat Human Rights Watch mengunjunginya di rumah sakit.

Sejumlah penyelidikan awal Human Rights Watch tentang situasi terkini di Negara Bagian Rakhine telah mengendus kampanye pembersihan etnis. Walaupun secara formal "pembersihan etnis" tak dinyatakan dalam hukum internasional, sebuah komisi PBB yang beranggotakan para pakar menjelaskan istilah tersebut sebagai "kebijakan terencana yang dirancang oleh satu kelompok etnis atau agama buat menyingkirkan, dengan cara-cara keras dan menimbulkan kengerian, populasi sipil kelompok etnis atau keagamaan lain dari suatu kawasan geografis.... Tujuan ini ialah menduduki wilayah serta menyingkirkan kelompok atau sejumlah kelompok sasaran."

"Tak ada tanda bahwa kengerian yang kami dan lembaga-lembaga lain singkapkan di Negara Bagian Rakhine bakal memudar," kata Ganguly. "Sebagai langkah pertama untuk memulangkan orang-orang Rohingya ke rumah mereka, PBB dan pemerintah negara-negara yang peduli harus mendesak Burma sekarang juga agar menghentikan penyelewengan-penyelewengan keji terhadap mereka."

 

Penggempuran desa-desa di Kotapraja Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, berdasarkan wawancara dengan para pengungsi Rohingya di Bangladesh, 30 Agustus 2017 hingga 5 September 2017

Yasin Ali

Yasin Ali (25 tahun) mengatakan, pasukan-pasukan kemanan Burma menyerbu desanya, Reka Para, pada 27 Agustus. Menjelang penyerangan, ketegangan meninggi di Reka Para dan desa-desa Rohingya di sekitarnya gara-gara warga Rakhine mengusik mereka selama berbulan-bulan. Kata Ali: "Mereka menghampiri kami dan berkata, 'Ini bukan lahanmu. Jangan diolah, dan jangan pernah memetik makanan yang tumbuh di atasnya.' Kalau kami kedapatan berada di wilayah mereka, mereka menggebuk kami dengan tongkat."

Selama serbuan 27 Agustus itu, semua warga desa bersembunyi. Kata Ali, para perempuan dan anak-anak dikirim mencari perlindungan ke tempat yang lebih jauh, sementara laki-laki menunggu gempuran reda tak jauh dari desa, berharap dapat segera kembali ke desa setelah para serdadu pergi. Ali sembunyi di tepi jalan, sekitar setengah kilometer dari jalan masuk pilihan tentara. Ia mendengar bunyi peluru mortar menghantam desa: "Aku mendengar suara bum bum bum, lalu kulihat rumah-rumah roboh." Tak lama kemudian, ia melihat para serdadu maju memasuki desa dan, dari tempat mengintip, Ali melihat mereka membawa senjata-senjata kecil dan sesuatu yang tampak seperti senapan mesin ringan. Ia juga mengaku melihat perlengkapan mortir di bahu seorang tentara beserta pelurunya yang kelihatan seukuran buah anggur.

Kata Ali, begitu para tentara itu memasuki desa, mereka langsung menembak tanpa pilih-pilih sasaran. Ia dan pria-pria lain dari desa itu kemudian memutuskan untuk kabur ke perbukitan dan berlindung. Dari sana, ia menyaksikan satu helikopter berwarna hijau zaitun mengelilingi desanya empat kali, dan melihat sesuatu dijatuhkan helikopter itu sebelum rumah-rumah di desanya terbakar.

Ali dan keluarganya berjalan ke Bangladesh dan diizinkan masuk oleh para penjaga perbatasan. Mereka tiba pada 31 Agustus, dan ketika Ali menyampaikan kesaksiannya kepada Human Rights Watch, keluarganya menunggu di luar sambil memikirkan di mana lagi mereka dapat berlindung.

 

Momena

Momena (32) melarikan diri dari desanya, Kirgari Para, pada 26 Agustus bersama dua di antara tiga anaknya. Ia bilang, tentara pernah menyerbu desanya dalam operasi-operasi militer pada akhir 2016, tetapi keadaan telah jauh lebih tenang sejak itu. Ia menggambarkan peristiwa yang membuatnya pergi:

Saya mendengar bunyi-bunyi pertempuran sekitar jam 4 sore pada hari Jumat (25 Agustus). Berisik sekali, lebih buruk ketimbang sebelumnya. Dengan mata sendiri, saya melihat serdadu-serdadu memasuki desa. Saya tak tahu seberapa banyak pasukan mereka, tapi mereka kelihatan banyak. Saya kabur ke desa lain bersama beberapa warga dan kami berlindung di hutan semalaman. Paginya, kembali ke desa setelah tentara-tentara itu pergi, saya melihat jenazah 40 sampai 50 warga desa, termasuk anak-anak dan orang tua. Semua punya luka tikam atau luka tembak--sebagian bahkan punya keduanya. Ayah saya ada di antara mereka; lehernya digorok. Saya tak dapat memakamkan ayah saya dan langsung melarikan diri.

Momena bilang ia terpaksa meninggalkan suami dan anak mereka yang baru berumur 10 tahun. Hingga kini ia belum mendapat kabar dari mereka. Suaminya tak punya telepon genggam dan warga desa yang terhubung dengannya tak mendengar apa pun tentang suami dan anaknya. Ia mendapat kabar bahwa ibunya masih hidup, tetapi tak tahu di mana atau bagaimana keadaannya.

Dari ketinggian di hutan, saat bersembunyi, Momena melihat beberapa rumah di desanya terbakar pada malam hari. Ia yakin tentaralah yang membakar rumah-rumah itu untuk memperingatkan warga desa.

Momena mengaku tak mengenal satu pun gerilyawan Rohingya di desanya. Ia pernah mendengar beberapa pemuda bicara tentang perlawanan, tetapi tak satu kali pun ia melihat mereka bertindak. Hanya kata-kata. Namun, setelah penyerangan, katanya, ia melihat banyak pemuda Rohingya kabur ke hutan.

Selain di desanya, Momena juga menemukan jenazah sejumlah anak di Sungai Naf di salah satu titik penyeberangan menuju Bangladesh.

Kata Momena, saat ia dan warga lain menyeberang ke Bangladesh, Penjaga Perbatasan Bangladesh menyuruh mereka berhenti dan berkata: "Kami harus menghentikan kalian, tetapi kalau kalian berteriak-teriak dan memaksa masuk, kami akan mengizinkan kalian masuk." Ia mengerti, mereka berpura-pura mematuhi perintah atasan untuk menolak para pengungsi Rohingya tetapi sesungguhnya justru membantu para pengungsi memasuki Bangladesh.

 

Khatija Khaton

Khatija Khaton, seorang janda, tinggal di desa Ashikha Mushi bersama empat anaknya. Pada 25 Agustus, sekelompok pemuda Rakhine bersenjata mendatangi rumahnya dan menyampaikan ancaman samar-samar. Ia mengenali mereka dari beberapa pertemuan sebelumnya, karena sebagian besar dari mereka terlibat dalam kekerasan terhadap komunitas Rohingya di desa itu pada Oktober 2016.

Khaton bilang ia tak pernah melaporkan beberapa ancaman sebelumnya karena "Kami tidak memercayai polisi. Satu-satunya jalan keluar buat kami adalah melarikan diri."

Para pemuda pengganggu itu bersenjata senapan dan ketapel. Kadang ia mendengar bunyi tembakan, dan warga lain mengatakan bahwa militer membantu pemuda-pemuda Rakhine, tapi ia sendiri mengaku tak pernah melihat buktinya.

Setelah menyaksikan kelompok Rakhine bersenjata membunuh seorang pemuda Rohingya berumur 22 tahun bernama Rahim, Khaton memutuskan untuk meninggalkan desanya pada hari itu juga, setelah salat Jumat. Pada mulanya, kata Khaton, para pemuda Rohingya di desanya membalas ancaman dan kesemena-menaan kelompok Rakhine dengan cara memprotes sambil membawa tongkat bambu, tetapi kelompok Rakhine malah menembaki mereka:

Salat jumat baru saja berakhir. Para pria dan anak-anak lelaki ada di pekarangan masjid saat kelompok Rakhine bersenjata mendatangi mereka. Rahim dan kawan-kawannya mengambil tongkat bambu, hanya itu yang mereka punya, tetapi Rahim panik ketika kelompok itu mulai menembak. Ia kabur. Aku melihat mereka menembaknya--peluru menembus pipinya, tepat di tulang pipi di bawah mata. Ia mati.

Setelah menyaksikan penembakan itu, Khaton panik dan kabur ke perbukitan bersama tiga anak gadisnya yang masih remaja, masing-masing berusia 13, 15, dan 18 tahun. Keamanan merekalah yang paling Khaton cemaskan. Adapun putranya yang berumur 5 tahun ia tinggalkan di rumah -- banyak orang Rohingya percaya bahwa anak-anak yang lebih belia takkan diserang -- tetapi sejak itu ia tak pernah mendengar kabar tentang si anak.

Dinihari 26 Agustus, Khaton mengetahui bahwa kelompok Rakhine bersenjata kembali menyerang desanya. Ketika bersembunyi di perbukitan, ia melihat beberapa helikopter. Ia juga mengaku mendengar bom dijatuhkan di sekitar desanya: "Bunyinya ajek, bum bum bum." Ia melihat masjid desa dan satu rumah di desanya terbakar.

Khaton dan putri-putrinya tak mengalami kesulitan memasuki Bangladesh, tetapi ia tetap mengkhawatirkan nasib mereka, serta menderita karena rasa bersalah dan ketidakpastian keadaan putra yang ia tinggalkan.

 

Nurus Safa

Nurus Safa, berusia sekitar 40 tahun, melarikan diri dari Fahira Bazar di kawasan pedesaan Kha Maung Seik pada 29 Agustus. Ia tampak terpukul ketika Human Rights Watch menemuinya kurang dari 24 jam setelah ia tiba di Bangladesh. "Banyak orang mati ditikam, rumah-rumah terbakar," katanya. "Kami diancam, orang-orang terluka, jadi aku melarikan diri begitu saja."

Safa bilang, desanya diserang sekelompok laki-laki berseragam, yang ia duga sebagai tentara-tentara Burma, pada 25 Agustus. Ia dan para tetangganya kabur dari desa dan bersembunyi di perbukitan di sekitar situ selama beberapa hari dan malam. Ia pernah mendengar gosip bahwa beberapa pemuda Rohingya di desanya telah mempersenjatai diri dan merencanakan protes, tetapi ia tak mengetahui hal itu secara langsung dan tak pernah melihat tanda-tandanya.

Dalam keadaan panik, Safa meninggalkan tiga anak tertua dari enam anaknya, yang masing-masing berusia 7, 8, dan 15 tahun. Ia belum mendapat kabar tentang mereka atau suaminya, Shafique Ahmed. Ia mengaku: saat menyeberangi Sungai Naf, air merendamnya sampai leher karena hujan deras. Safa saat itu melihat banyak orang terluka menyeberangi sungai menuju Bangladesh, tetapi tak mengenal dan tidak tahu bagaimana mereka sampai terluka.

Safa mengaku bahwa ia dan anak-anaknya tak mengalami kesulitan dari penjaga perbatasan saat memasuki Bangladesh.

 

Mohammad Yunus

Mohammad Yunus (26) bilang, desanya Sikadir Para di kawasan pedesaaan Tat U Chaung, dekat perbatasan dengan Bangladesh, digempur pada 26 Agustus. Meski warga desa itu tak mendapat peringatan sebelumnya, saat itu mereka gugup karena orang-orang dari pelbagai desa lain di pedalaman datang ke Sikadir Para buat melarikan diri. Begini Yunus menggambarkan serangan terhadap desa tetangga Falinga Ziri:

Saya ingat bagaimana helikopter-helikopter tentara, hijau zaitun, terbang berkeliling. Saya sedang berdiri di tepi kanal, menyaksikan semuanya terjadi tepat di seberang saya. Saya sangat dekat dan melihat semuanya dengan mata sendiri. Para serdadu menggunakan senjata yang menyemburkan api, atau sesuatu yang meledak dan menciptakan api.

Yunus tak yakin berapa banyak serdadu terlibat dalam operasi tersebut, tetapi ia mengira mungkin ada lebih dari 250 personil. Ia mengaku melihat 25 hingga 30 rumah dibakar di Falinga Kiri. Katanya, saat penyerangan berlangsung, tak ada lagi warga desa; mereka sudah melarikan diri.

Yunus dan para tetangganya segera memutuskan untuk ikut kabur. Keesokan harinya, 27 Agustus, saat mereka mencari perlindungan di perbukitan di dekat desa, Yunus melihat para serdadu dan polisi menembaki warga desa yang kabur. Kemudian ia mengetahui bahwa ada satu perempuan terbunuh dalam peristiwa itu.

Kata Yunus, ia tak mengenal satu pun pria Rohingya yang mengikuti pelatihan tempur atau mempersenjatai diri, atau terlibat aktivitas gerilya.

 

Begum Bahar

Kata Begum Bahar, tentara menyerang desanya, Kun The Pyin, pada 25 Agustus. Mereka mengenakan seragam hijau zaitun dan ia percaya bahwa mereka merupakan tentara Burma. Bersama tujuh anaknya dan warga lain, ia melarikan diri dalam keadaan panik ketika melihat kedatangan tentara dan mendengar bunyi tembakan. Mereka lari memasuki hutan untuk menyeberangi perbatasan ke Bangladesh demi keamanan, sekitar dua jam perjalanan tanpa kendaraan.

Bahar mengaku melihat sedikitnya tiga mayat saat ia kabur ke penyeberangan. Satu punya luka di tengkuk dan dua yang lain punya luka-luka tembak. Ia mendengar bunyi senapan besar “bum bum bum” sepanjang hari pada 26 dan 27 Agustus, saat ia berusaha menyeberangi Sungai Naf menuju Bangladesh. Dalam penyeberangan itulah ia kehilangan kontak dengan putranya yang berumur 12 tahun dan tak mengetahui apakah si anak selamat.

Begum Bahar mengatakan bahwa ia tak tahu soal pelatihan gerilya Rohingya atau kegiatan-kegiatan anti pemerintah. Ia bilang, otoritas setempat telah memerintahkan semua desa Rohingya untuk menyerahkan senjata tajam kepada pemimpin masing-masing, dan mereka menyerahkannya ke kepolisian. Maka, perlawanan macam apa pun akan sulit. Perempuan itu mengaku bahwa putranya yang berumur 22 tahun menolak melarikan diri dan tinggal di desa sementara ia dan anak-anaknya yang lain mencari perlindungan.

 

Tabarak Hussein

Hussein (19) bilang, pada 27 Agustus sekitar pukul 9 pagi, sekitar 200 hingga 300 anggota pasukan bersenjata Burma yang berseragam beserta sejumlah pria Rakhine lokal tiba di desanya, Kun Thee Pyun (Kwashong dalam bahasa Rohingya). Semua anggota rombongan itu bersenjata, tetapi ia kelewat takut untuk memperhatikan senjata-senjata itu. Tiba-tiba, mereka memulai penembakan-sapu-bersih di desa itu.

Kata Hussein, ketegangan di desanya sudah meninggi sebelum penyerangan:

Polisi setempat sudah sering mengusik kami, memperlakukan kami secara semena-mena sekurangnya sejak enam bulan sebelum kejadian ini. Mereka merampas sapi-sapi kami, misalnya. Kami marah tetapi tidak memprotes; kami tahu itu takkan menghasilkan apa-apa. Lalu pada Jumat (25 Agustus) sebelum penyerangan itu, empat orang di desa saya dibunuh (oleh polisi). Saya tak tahu persis bagaimana itu terjadi. Semua korban adalah lelaki Rohingya. Kami meninggalkan desa lantas bersembunyi di perbukitan pada hari itu juga, tetapi akhirnya kembali karena mengira polisi sudah pergi. Kami pikir badai telah berlalu, tapi rupanya kami salah.

Hussein bilang, ketika serangan 27 Agustus dimulai, ia dan para tetangganya kabur ke perbukitan. Dari puncak sebuah bukit, ia melihat helikopter terbang di atas desa Kun Thee Pyun, dan hampir seketika ia melihat rumah-rumah di desanya terbakar. Ia tak tahu apa sebab kebakaran itu.

Menurut Hussein, tak ada warga desanya yang terbunuh atau terluka dalam serangan 27 Agustus. Ia berjalan selama dua hari dan tiba di perbatasan Bangladesh pada 29 Agustus. Ia mengaku rombongannya sempat dihentikan penjaga perbatasan Bangladesh, kemudian memerintahkan mereka untuk masuk ke Bangladesh itu lewat jalur lain. Rombongan itu menurut dan mereka diizinkan masuk.

 

Anwar Shah

Kata Anwar Shah (17), pasukan kemanan berseragam Burma menembaki satu kerumunan di desanya, Let Ya Chaung, pada pagi 27 Agustus. Mereka membunuh tiga pria, seorang anak laki-laki, dan melukai 18 orang lainnya. Ia mengaku tak tahu sebab penembakan itu. Namun, katanya, memang ada ketegangan antara otoritas dan warga Rakhine lokal dan warga desa Rohingya selama beberapa waktu. Menurut Shah, keempat korban penembakan itu tak mungkin bersenjata atau menunjukkan ancaman. Salah satu korban tewas ialah kakak Shah, Abdu Satter (22). Abdu Shukur (sekitar 50 tahun); Nur Alam (sekitar 15 tahun); dan Haroun (sekitar 25 tahun). Keluarga masing-masing memakamkan jenazah para korban di desa tetangga Kum Para karena kelewat takut untuk melakukannya di desa mereka sendiri.

Shah mengaku melihat masjid desa terbakar setelah penyerangan. Ia mendengar bahwa kepolisian lokal merupakan pihak yang bertanggungjawab atas pembakaran itu, tetapi dirinya tak menyaksikan pembakaran itu sendiri.

Menyusul kematian kakaknya, Shah melarikan diri ke Bangladesh. Ia mendapat kabar bahwa ada serangan besar-besaran ke desanya pada 28 Agustus, dan tiada satu rumah pun lolos dari api.